Mengapa angkat besi butuh skor yang disesuaikan berat badan
Total angkatan mentah — jumlah dari squat, bench press dan deadlift — bukan cara yang adil untuk membandingkan atlet yang bertanding di kelas berat badan berbeda. Tubuh yang lebih besar umumnya sanggup menghasilkan gaya absolut yang lebih besar daripada tubuh yang kecil, sebagian besar karena rangka yang lebih besar membawa massa otot lebih banyak. Karena itu, total yang lebih tinggi pada atlet berbadan berat tidak dengan sendirinya menunjukkan kekuatan relatif atau keterampilan yang lebih baik.
Rumus yang disesuaikan dengan berat badan mengatasi hal ini dengan mengalikan total angkatan dengan koefisien yang bergantung pada berat badan atlet, sehingga menghasilkan satu angka yang sebanding tanpa memandang kelas berat maupun jenis kelamin. Inilah yang memungkinkan sebuah kejuaraan memberikan satu penghargaan “lifter terbaik” untuk seluruh kategori berat badan, bukan sekadar memeringkat atlet di dalam kelasnya sendiri.
Cara kerja rumus penilaian polinomial
Wilks dan DOTS bekerja dengan prinsip dasar yang sama: koefisien dihitung sebagai 500 dibagi sebuah polinomial yang dievaluasi pada berat badan atlet, lalu skor akhir adalah total angkatan dikalikan koefisien tersebut. Rumus Wilks memakai polinomial derajat lima dengan konstanta terpisah yang dipublikasikan untuk pria dan wanita; DOTS memakai polinomial derajat empat, juga dengan konstanta pria dan wanita yang terpisah.
Karena berat badan yang lebih besar berkaitan dengan total yang lebih tinggi namun tidak secara proporsional langsung, polinomial menghasilkan koefisien yang mengecil seiring naiknya berat badan. Total milik atlet yang lebih ringan dikalikan angka yang lebih besar dibanding atlet yang lebih berat dengan total setara, dan justru itulah yang membuat rumus ini menghargai kekuatan relatif terhadap berat badan, bukan ukuran tubuh absolut.
Kedua polinomial hanya dipublikasikan sebagai sahih dalam rentang berat badan tertentu: kira-kira 40 sampai 201,9 kg untuk pria dan 40 sampai 154,53 kg untuk wanita pada Wilks, serta kira-kira 40 sampai 210 kg untuk pria dan 40 sampai 150 kg untuk wanita pada DOTS. Berat badan di luar rentang itu dihitung memakai titik ujung sahih terdekat, karena kurvanya memang tidak dicocokkan dengan data di luar batas tersebut.
- Koefisien Wilks = 500 ÷ (a + b·x + c·x² + d·x³ + e·x⁴ + f·x⁵), dengan x = berat badan (kg)
- Koefisien DOTS = 500 ÷ (A + B·x + C·x² + D·x³ + E·x⁴), dengan x = berat badan (kg)
- Skor (kedua rumus) = total angkatan (kg) × koefisien
Contoh perbandingan: total yang sama pada berat badan berbeda
Tabel di bawah menerapkan kedua rumus pada tiga atlet pria yang masing-masing membukukan total tepat 500 kg tetapi bertanding pada berat badan berbeda, memakai konstanta koefisien Wilks dan DOTS yang dipublikasikan. Seiring naiknya berat badan, koefisien — dan karena itu skornya — turun pada kedua rumus, meski total angkatannya identik.
Kedua rumus menghasilkan skor yang berdekatan, namun tidak identik, pada setiap berat badan dalam contoh ini — umumnya hanya terpaut beberapa poin — karena keduanya dicocokkan dengan kumpulan data yang berbeda. Ini ilustrasi yang berguna untuk melihat betapa miripnya hasil keduanya, sekaligus alasan mengapa keduanya tetap tidak dapat dipertukarkan begitu saja.
| Berat badan | Koefisien Wilks | Skor Wilks | Koefisien DOTS | Skor DOTS |
|---|---|---|---|---|
| 70 kg | 0,7494 | 374,7 | 0,7512 | 375,6 |
| 80 kg | 0,6827 | 341,3 | 0,6895 | 344,8 |
| 100 kg | 0,6086 | 304,3 | 0,6155 | 307,8 |
Federasi mana memakai rumus yang mana
USA Powerlifting (USAPL) mengadopsi DOTS sebagai rumus penilaian resmi berbasis berat badan pada 2020, menggantikan Wilks untuk penghargaan lifter terbaik dan pemeringkatan di federasi tersebut. Federasi lain masih memakai rumus Wilks yang asli, sedangkan International Powerlifting Federation (IPF, federasi angkat besi internasional) memakai sistem GL Points miliknya sendiri untuk kompetisi yang mereka sahkan.
Karena setiap federasi bebas memilih rumus penyesuaian berat badannya sendiri, hasil kejuaraan atlet yang sama bisa dilaporkan dengan skor berbeda tergantung federasi atau kejuaraan tempat ia bertanding. Karena itu, ada baiknya memeriksa dulu rumus apa yang dipakai suatu hasil sebelum membandingkannya dengan atlet lain.
Mengapa kedua skor tidak dapat dipertukarkan
Skor Wilks dan DOTS untuk atlet yang sama biasanya mirip, seperti ditunjukkan contoh di atas, tetapi keduanya bukan angka yang sama dan tidak boleh diperlakukan sebagai setara langsung. Masing-masing rumus dicocokkan dengan kumpulan data hasil kompetisinya sendiri, dengan derajat polinomial dan konstanta sendiri, sehingga skor DOTS 400 misalnya tidak bermakna sama dengan skor Wilks 400.
Kehati-hatian serupa berlaku untuk sistem GL Points milik IPF dan rumus penyesuaian berat badan lain mana pun: skor hanya bermakna bila dibandingkan dengan skor lain yang dihitung memakai rumus yang sama. Mencampur rumus — misalnya memeringkat skor Wilks seorang atlet terhadap skor DOTS atlet lain — menghasilkan perbandingan yang tampak sahih padahal tidak.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa bedanya Wilks dan DOTS?
Keduanya adalah skor angkat besi yang disesuaikan dengan berat badan, yang mengalikan total angkatan dengan koefisien hasil pencocokan polinomial terhadap berat badan. Wilks memakai polinomial derajat lima dari kumpulan data yang lebih lama; DOTS memakai polinomial derajat empat yang dicocokkan dengan data kompetisi lebih baru dan menjadi rumus resmi USA Powerlifting pada 2020. Keduanya biasanya menghasilkan skor yang berdekatan, tetapi tidak identik, untuk atlet yang sama.
Federasi mana memakai rumus penilaian yang mana?
USA Powerlifting (USAPL) memakai DOTS sebagai rumus resmi sejak 2020. International Powerlifting Federation (IPF) memakai sistem GL Points miliknya sendiri. Federasi lain mungkin masih memakai rumus Wilks yang asli, sehingga ada baiknya memeriksa rumus apa yang diterapkan suatu federasi atau kejuaraan sebelum membandingkan hasil.
Bisakah skor Wilks saya dibandingkan dengan skor DOTS orang lain?
Tidak, setidaknya tidak secara langsung. Meski skor Wilks dan DOTS untuk atlet yang sama biasanya berdekatan secara angka, keduanya berasal dari polinomial berbeda yang dicocokkan dengan kumpulan data berbeda. Perbandingan yang sahih menuntut kedua skor dihitung dengan rumus yang sama.
Mengapa skor saya berubah padahal total angkatan saya tetap?
Karena skor Wilks maupun DOTS bergantung pada berat badan selain total angkatan, perubahan berat badan saja — tanpa perubahan total — sudah menggeser koefisien dan karena itu menggeser skor Anda. Menurunkan berat badan sambil mempertahankan total yang sama umumnya menaikkan skor pada kedua rumus, sedangkan menambah berat badan pada total yang sama umumnya menurunkannya.
Apakah skor Wilks atau DOTS yang lebih tinggi selalu lebih baik?
Di dalam satu rumus, skor yang lebih tinggi menunjukkan total yang lebih besar relatif terhadap berat badan menurut kurva koefisien rumus tersebut. Namun, tidak satu pun dari kedua rumus itu memiliki skala penilaian universal baku yang didukung otoritas kesehatan; keduanya terutama alat pemeringkatan relatif untuk membandingkan atlet satu sama lain dalam sebuah kompetisi atau kumpulan data, bukan terhadap tolok ukur absolut.
Untuk rentang berat badan berapa rumus ini sahih?
Polinomial Wilks dipublikasikan sahih untuk kira-kira 40–201,9 kg pada pria dan 40–154,53 kg pada wanita; polinomial DOTS untuk kira-kira 40–210 kg pada pria dan 40–150 kg pada wanita. Berat badan di luar rentang ini dihitung memakai titik ujung sahih terdekat, karena kedua kurva itu tidak dicocokkan dengan data di luar batas tersebut.
Referensi
- Wikipedia contributors. Wilks coefficient. Wikipedia, the free encyclopedia — published male and female polynomial constants.
- Wikipedia contributors (German edition). DOTS-Relativwertung. Wikipedia, die freie Enzyklopädie — published DOTS coefficient constants.
- Vanderburgh PM, Batterham AM. Validation of the Wilks powerlifting formula. Medicine & Science in Sports & Exercise 1999; 31(12): 1869–1875.
- USA Powerlifting (USAPL). Official rules and scoring formula documentation.
- International Powerlifting Federation (IPF). Technical Rules — competition scoring formulas.