CCalculate.Studio
technology · 7 min · Terakhir ditinjau: 2026-07-07

Cara Kerja Subnetting IP: Panduan CIDR untuk Pemula

TL;DRSubnet mask adalah pola 32 bit berupa deretan bit 1 yang berurutan lalu diikuti bit 0, yang memisahkan alamat IPv4 menjadi bagian jaringan dan bagian host, sedangkan notasi CIDR seperti /24 menyatakan berapa banyak dari 32 bit itu yang menjadi milik jaringan. Subnetting ada untuk membagi blok alamat besar menjadi jaringan-jaringan kecil yang bisa dikelola sendiri-sendiri, sehingga ukuran domain broadcast tetap terbatas, lalu lintas terisolasi, dan tabel routing tetap ringkas berkat agregasi alamat. Sebagai contoh, alamat 192.168.1.10/26 memiliki mask 255.255.255.192, dengan alamat jaringan 192.168.1.0, alamat broadcast 192.168.1.63, serta 62 alamat host yang bisa dipakai, yaitu 192.168.1.1 sampai 192.168.1.62.

Apa yang dikerjakan sebuah subnet mask

Subnet mask adalah nilai 32 bit yang panjangnya sepadan dengan alamat IPv4, tersusun dari deretan bit 1 yang berurutan lalu diikuti deretan bit 0 yang juga berurutan. Bit 1 menandai bit mana dari alamat tersebut yang mengidentifikasi jaringan tempat alamat itu berada, sedangkan bit 0 menandai bit mana yang mengidentifikasi host tertentu di dalam jaringan itu. Menerapkan operasi AND bitwise antara alamat IP dan mask-nya akan membuang bit host dan menyisakan alamat jaringan saja.

Sebagai contoh, mask 255.255.255.0 dalam biner adalah 11111111.11111111.11111111.00000000 -- 24 bit satu diikuti 8 bit nol -- yang berarti tiga oktet pertama mengidentifikasi jaringan dan oktet terakhir mengidentifikasi masing-masing host di dalamnya, sehingga tersedia sampai 256 alamat (254 di antaranya bisa dipakai) dalam jaringan tersebut.

Notasi CIDR: apa arti /24 sebenarnya

CIDR (Classless Inter-Domain Routing, perutean antar-domain tanpa kelas), yang dispesifikasikan dalam RFC 4632, menuliskan subnet mask sebagai garis miring diikuti jumlah bit 1 di awal, sehingga /24 adalah bentuk ringkas dari mask 255.255.255.0 dan /26 adalah bentuk ringkas dari 255.255.255.192. CIDR menggantikan sistem berkelas yang lama, yang ukuran jaringannya dipatok kaku oleh bit-bit awal alamat (kelas A, B, atau C), dengan keleluasaan menetapkan jaringan berukuran nyaris berapa pun melalui pemilihan panjang prefiks dari /0 sampai /32.

Panjang prefiks langsung menentukan mask sekaligus jumlah bit host yang tersisa: untuk alamat IPv4 32 bit, bit host = 32 − panjang prefiks. Jaringan /24 punya 8 bit host (2⁸ = 256 alamat), jaringan /26 punya 6 bit host (2⁶ = 64 alamat), dan jaringan /30 punya 2 bit host (4 alamat) -- makin sedikit bit host, makin kecil jaringannya.

Contoh perhitungan: 192.168.1.10/26

Ambil alamat 192.168.1.10 dengan prefiks /26. Mask /26 memiliki 26 bit satu, yang mencakup seluruh tiga oktet pertama (24 bit) ditambah 2 bit teratas dari oktet keempat, sehingga mask-nya menjadi 255.255.255.192 (192 dalam biner adalah 11000000). Oktet keempat dari alamat tersebut, yaitu 10, adalah 00001010 dalam biner; meng-AND-kannya dengan oktet keempat mask (11000000) menolkan 6 bit terbawah dan menyisakan 00000000 = 0, sehingga alamat jaringannya adalah 192.168.1.0.

Enam bit host yang tersisa pada oktet keempat memberi ukuran blok 2⁶ = 64 alamat per subnet, sehingga subnet yang memuat .10 membentang dari alamat .0 sampai .63. Alamat broadcast adalah ujung atas rentang itu, yaitu 192.168.1.63 (semua bit host bernilai 1), sedangkan rentang host yang bisa dipakai adalah semua alamat di antara alamat jaringan dan alamat broadcast: 192.168.1.1 sampai 192.168.1.62 -- tepat 2⁶ − 2 = 62 alamat host yang bisa dipakai.

Mengapa subnetting diperlukan

Subnetting dibakukan dalam RFC 950 untuk mengatasi masalah praktis: satu jaringan datar berisi ribuan atau jutaan perangkat itu tidak efisien sekaligus rapuh, karena setiap perangkat dalam satu domain broadcast menerima setiap paket broadcast yang dikirim di dalamnya, sehingga gangguan atau badai broadcast pada satu segmen bisa memengaruhi seluruh jaringan. Memecah blok alamat besar menjadi subnet-subnet kecil membatasi lalu lintas broadcast di dalam tiap subnet dan memungkinkan jaringan ditata mengikuti batas fisik atau organisasi -- satu lantai, satu departemen, satu rak pusat data -- alih-alih menjadi satu kumpulan alamat yang tak terbagi.

Subnetting juga mendukung penghematan alamat dan efisiensi perutean: sebuah organisasi bisa menyesuaikan ukuran tiap subnet agar kira-kira sepadan dengan jumlah perangkat yang benar-benar dibutuhkan (tautan titik-ke-titik /30 antara dua router tidak perlu menghabiskan 254 alamat seperti jaringan kantor /24), dan prefiks CIDR yang panjangnya bisa berubah-ubah memungkinkan router menggabungkan banyak subnet kecil menjadi satu entri tabel routing, sehingga tabel routing berskala internet tidak tumbuh sampai tak terkendali, sebagaimana diuraikan dalam RFC 4632.

Tabel rujukan prefiks CIDR

Tabel di bawah ini memuat panjang prefiks CIDR yang umum beserta subnet mask desimal bertitiknya dan jumlah alamat host yang bisa dipakai, mengikuti aturan baku penghitungan host CIDR yang menyisihkan alamat jaringan dan alamat broadcast sehingga keduanya tidak bisa diberikan ke perangkat.

PrefiksSubnet maskHost yang bisa dipakai
/24255.255.255.0254
/25255.255.255.128126
/26255.255.255.19262
/27255.255.255.22430
/28255.255.255.24014
/29255.255.255.2486
/30255.255.255.2522

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu subnet mask?

Subnet mask adalah nilai 32 bit yang terdiri atas deretan bit 1 berurutan lalu diikuti deretan bit 0 berurutan, dipakai untuk memisahkan alamat IPv4 menjadi bagian jaringan dan bagian host. Menerapkan operasi AND bitwise antara sebuah alamat dan mask-nya menghasilkan alamat jaringan; mask 255.255.255.0, misalnya, menandai 24 bit pertama sebagai bagian jaringan dan 8 bit terakhir sebagai bagian host.

Apa arti /24 pada sebuah alamat IP?

Angka /24 dalam notasi CIDR berarti 24 bit pertama dari 32 bit alamat tersebut mengidentifikasi jaringan, setara dengan subnet mask 255.255.255.0. Sisa 8 bit mengidentifikasi masing-masing host di dalam jaringan itu, sehingga totalnya 2⁸ = 256 alamat, dan 254 di antaranya bisa dipakai setelah alamat jaringan dan alamat broadcast disisihkan.

Bagaimana cara mencari alamat jaringan dan broadcast untuk 192.168.1.10/26?

Mask /26 adalah 255.255.255.192, menyisakan 6 bit host pada oktet terakhir dengan ukuran blok 2⁶ = 64 alamat. Karena 10 jatuh di dalam blok 0-63, alamat jaringannya adalah 192.168.1.0 (semua bit host dinolkan) dan alamat broadcast-nya 192.168.1.63 (semua bit host bernilai 1); rentang host yang bisa dipakai adalah 192.168.1.1 sampai 192.168.1.62, atau 62 alamat.

Mengapa subnetting itu ada?

Subnetting membagi jaringan besar menjadi segmen-segmen kecil yang dikelola sendiri-sendiri, sehingga jangkauan penyebaran lalu lintas broadcast terbatas, gangguan dan lalu lintas yang tidak diinginkan terisolasi pada bagian jaringan yang lebih kecil, dan ruang alamat bisa dialokasikan kira-kira sepadan dengan jumlah perangkat nyata alih-alih memboroskan blok besar untuk tautan kecil. Subnetting juga memungkinkan router menggabungkan banyak subnet kecil menjadi lebih sedikit entri tabel routing, dan hal itu penting agar perutean internet bisa berskala besar.

Berapa jumlah host yang bisa dipakai dalam jaringan /26?

62. Prefiks /26 menyisakan 6 bit host (32 − 26 = 6), sehingga totalnya 2⁶ = 64 alamat dalam subnet tersebut. Dari jumlah itu, alamat dengan semua bit nol disisihkan sebagai alamat jaringan dan alamat dengan semua bit satu disisihkan sebagai alamat broadcast, sehingga tersisa 2⁶ − 2 = 62 alamat yang bisa diberikan ke perangkat.

Apa bedanya CIDR dengan sistem pengalamatan berkelas yang lama?

Pengalamatan berkelas mematok ukuran jaringan pada beberapa pilihan kaku (kelas A, B, atau C) berdasarkan bit-bit awal sebuah alamat, sehingga banyak ruang alamat terbuang pada organisasi yang membutuhkan ukuran di antara pilihan-pilihan tetap itu. CIDR, yang dispesifikasikan dalam RFC 4632, menggantinya dengan prefiks berpanjang bebas yang ditulis dalam notasi garis miring (misalnya /24, /26), sehingga jaringan bisa diukur hampir pada batas pangkat dua mana pun dan router bisa menggabungkan beberapa jaringan menjadi lebih sedikit entri tabel routing.

Referensi

  1. Mogul J, Postel J. Internet Standard Subnetting Procedure. RFC 950, IETF, 1985.
  2. Fuller V, Li T. Classless Inter-domain Routing (CIDR): The Internet Address Assignment and Aggregation Plan. RFC 4632, IETF, 2006.
  3. Postel J. Internet Protocol. RFC 791, IETF, 1981.
  4. Rekhter Y, Moskowitz B, Karrenberg D, de Groot GJ, Lear E. Address Allocation for Private Internets. RFC 1918, IETF, 1996.

Kalkulator terkait

🧩 Tambahkan kalkulator ke situs Anda — gratis. Widgets →