CCalculate.Studio
health · 7 min · Terakhir ditinjau: 2026-07-07

BMI vs BRI: Indeks Tubuh Mana yang Lebih Baik?

TL;DRBMI (indeks massa tubuh) mengukur berat badan relatif terhadap tinggi badan, tetapi tidak bisa memisahkan lemak dari otot maupun menunjukkan di mana lemak itu menumpuk. BRI (indeks kebulatan tubuh), yang dikembangkan Thomas dkk. pada 2012, memasukkan lingkar pinggang dan tinggi badan untuk menggambarkan bentuk tubuh serta memperkirakan lemak viseral, sehingga dalam berbagai penelitian kaitannya dengan risiko kardiometabolik terlihat lebih kuat. Karena itu, klinisi kini semakin sering memakai kedua ukuran ini berdampingan, bukan hanya mengandalkan salah satunya.

Apa itu BMI dan bagaimana cara menghitungnya?

Indeks massa tubuh (BMI) dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m²). Rumus ini disusun oleh matematikawan Belgia Adolphe Quetelet pada abad ke-19 dan kemudian diadopsi World Health Organization (WHO, Organisasi Kesehatan Dunia) sebagai alat penapisan tingkat populasi. WHO menggolongkan BMI di bawah 18,5 sebagai berat badan kurang, 18,5-24,9 sebagai berat badan normal, 25,0-29,9 sebagai berat badan berlebih, dan 30,0 atau lebih sebagai obesitas, dengan subkelas obesitas lanjutan pada angka 35 dan 40.

Kekuatan utama BMI terletak pada kesederhanaannya: cukup dengan timbangan dan meteran, sehingga praktis dipakai dalam studi epidemiologi berskala besar maupun penapisan klinis rutin. WHO dan sebagian besar lembaga kesehatan nasional tetap menganjurkan BMI sebagai ukuran penapisan lini pertama justru karena pengukurannya terstandar, murah, dan mudah diulang. Meski begitu, WHO juga menegaskan bahwa BMI adalah alat penapisan, bukan alat diagnosis, sehingga penafsirannya harus mempertimbangkan konteks klinis lain.

Apa itu BRI dan apa bedanya?

Indeks kebulatan tubuh (BRI) diperkenalkan Diana Thomas dan rekan-rekannya dalam makalah tahun 2012 di jurnal Obesity. Rumusnya memakai lingkar pinggang dan tinggi badan untuk memodelkan batang tubuh manusia sebagai sebuah elips, lalu menghasilkan angka yang menggambarkan seberapa “bulat” bentuk tubuh seseorang. Nilai BRI yang lebih tinggi menandakan penampang tubuh yang lebih membulat (kebulatan dan penumpukan lemak pusat yang lebih besar), sedangkan nilai yang lebih rendah mencerminkan bentuk tubuh yang lebih memanjang. Rumus matematisnya: BRI = 364,2 - 365,5 x sqrt(1 - ((WC / 2pi) kuadrat / (0,5 x H) kuadrat)), dengan WC adalah lingkar pinggang dan H adalah tinggi badan, keduanya dalam meter.

Karena memasukkan lingkar pinggang, BRI memberi gambaran tentang penumpukan lemak pusat -- yaitu lemak yang menumpuk di sekitar perut -- yang tidak bisa ditangkap BMI. Lemak viseral, yang tersimpan di sekitar organ dalam rongga perut, dikaitkan dengan risiko kardiometabolik yang lebih tinggi dibandingkan lemak subkutan di bagian tubuh lain. Penelitian setelah makalah Thomas dkk. 2012 menelaah apakah BRI mengungguli BMI dalam memprediksi luaran metabolik, dan beberapa studi melaporkan kaitan yang lebih kuat antara BRI dengan penanda seperti tekanan darah, glukosa puasa, dan trigliserida.

Perbandingan berdampingan: BMI vs BRI

Tabel di bawah ini merangkum perbedaan praktis dan ilmiah yang utama antara BMI dan BRI. Tidak satu pun dari kedua indeks ini merupakan ukuran pasti kadar lemak tubuh atau status kesehatan; masing-masing punya kelebihan dan keterbatasan tersendiri, bergantung pada konteks klinis atau penelitiannya.

AspekBMIBRI
Data yang dibutuhkanBerat badan, tinggi badanLingkar pinggang, tinggi badan
Tujuan awalPenapisan populasi (Quetelet)Pemodelan bentuk tubuh (Thomas dkk. 2012)
Menangkap lemak pusat?TidakYa (lewat lingkar pinggang)
Membedakan lemak dari otot?TidakTidak
Ada sistem klasifikasi WHO?Ya (sudah baku)Tidak (rentang dari penelitian)
Penerapan klinisUniversalBaru berkembang / ranah penelitian
Paling cocok untukPenapisan tingkat populasiPerkiraan lemak viseral dan risiko kardiometabolik
Ada penyesuaian etnis tervalidasi?Ya (batas WHO untuk populasi Asia)Bukti masih terbatas sejauh ini

Lemak viseral: mengapa obesitas perut itu penting

Lemak viseral adalah jaringan lemak yang aktif secara metabolik dan tersimpan di dalam rongga perut, mengelilingi organ seperti hati, pankreas, dan usus. Berbeda dengan lemak subkutan yang berada tepat di bawah kulit, lemak viseral melepaskan asam lemak bebas dan zat proinflamasi langsung ke sirkulasi portal, yang diduga ikut berkontribusi pada resistensi insulin, dislipidemia, serta peningkatan risiko kardiovaskular. WHO dan perhimpunan kardiologi besar mengakui lingkar pinggang sebagai penanda praktis untuk penumpukan lemak viseral.

Karena memasukkan lingkar pinggang, BRI mampu membedakan dua orang dengan BMI identik yang sebenarnya memiliki sebaran lemak sangat berbeda. Sebagai contoh, seorang atlet dengan massa otot besar bisa memiliki BMI tinggi tetapi BRI rendah karena pinggangnya relatif kecil, sedangkan orang yang jarang bergerak dengan BMI normal namun lemak perut cukup banyak justru bisa memiliki BRI yang tinggi. Perbedaan ini relevan secara klinis karena pola yang kedua -- dalam literatur penelitian kadang disebut “obesitas berberat badan normal” atau “metabolically obese normal weight” -- dapat membawa risiko kardiometabolik yang meningkat meski BMI-nya normal.

Keterbatasan kedua ukuran

BMI tidak memperhitungkan usia, jenis kelamin, etnis, tingkat kebugaran, maupun komposisi tubuh. Seorang atlet berotot dan seseorang yang jarang bergerak dengan tinggi dan berat badan sama akan memperoleh BMI yang identik, padahal profil kesehatan keduanya sangat berbeda. WHO mengakui bahwa batas BMI yang lebih rendah mungkin lebih sesuai untuk populasi keturunan Asia, dengan anjuran mempertimbangkan titik tindakan pada BMI 23 (berat badan berlebih) dan 27,5 (obesitas) untuk kelompok ini.

BRI, meski secara teori lebih unggul dalam menangkap bentuk tubuh, punya keterbatasannya sendiri. Pengukuran lingkar pinggang rentan terhadap variasi antarpemeriksa; protokol yang berbeda (di pusar, di titik tersempit, atau di titik tengah antara tulang rusuk terbawah dan puncak tulang panggul) menghasilkan angka yang berbeda pula. BRI juga tidak langsung memisahkan lemak subkutan dari lemak viseral -- ia hanya memakai lingkar pinggang sebagai penanda. Selain itu, ambang dan rentang klasifikasi BRI belum dibakukan organisasi kesehatan besar sebagaimana ambang BMI dari WHO, sehingga penerapan klinis langsungnya masih terbatas.

Ukuran mana yang sebaiknya dipakai?

Pedoman klinis terkini dari WHO, NHS, dan perhimpunan kedokteran obesitas besar menganjurkan penggunaan BMI sebagai alat penapisan utama, disertai lingkar pinggang sebagai ukuran pelengkap. Rasio pinggang terhadap tinggi badan dan rasio pinggang-panggul juga banyak dipakai untuk menilai penumpukan lemak pusat. BRI menyatukan lingkar pinggang dan tinggi badan ke dalam satu indeks dan bisa berguna untuk penelitian maupun penapisan, tetapi indeks ini belum menggantikan BMI dalam pedoman klinis rutin.

Bagi orang yang ingin memahami komposisi tubuhnya secara lebih utuh, klinisi dapat memadukan BMI dengan lingkar pinggang, rasio pinggang-panggul, atau ukuran komposisi tubuh yang lebih langsung seperti dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA, pemindaian sinar-X dua energi). Tidak ada satu indeks pun yang mampu menangkap seluruh kerumitan komposisi tubuh dan kesehatan metabolik; konteks, pertimbangan klinis, serta penilaian menyeluruh tetap dibutuhkan dalam setiap pengambilan keputusan terkait kesehatan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah BRI lebih akurat daripada BMI?

BRI memasukkan lingkar pinggang, sehingga ia menjadi prediktor penumpukan lemak pusat dan lemak viseral yang lebih baik dibandingkan BMI semata. Penelitian setelah publikasi Thomas dkk. 2012 melaporkan kaitan yang lebih kuat antara BRI dengan sejumlah penanda risiko kardiometabolik dibandingkan BMI. Meski demikian, BRI belum didukung organisasi kesehatan besar sebagai pengganti BMI, dan kedua ukuran ini sama-sama tidak bisa memisahkan massa lemak dari massa tanpa lemak. Apakah BRI “lebih akurat” bergantung pada luaran spesifik yang sedang dinilai.

Berapa skor BRI yang tergolong sehat?

Berdasarkan kerangka Thomas dkk. 2012 dan penelitian sesudahnya, nilai BRI di kisaran sekitar 3,41 sampai 5,46 umumnya dianggap ramping hingga rata-rata. Nilai di atas 6,91 dikaitkan dengan kebulatan tubuh yang lebih tinggi dan potensi risiko kardiometabolik. Namun, batas klasifikasi BRI yang baku belum diadopsi organisasi kesehatan besar, sehingga penafsirannya sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan, bukan sekadar bersandar pada ambang umum.

Bisakah BMI normal tetapi BRI tinggi?

Bisa. Seseorang dengan BMI normal (18,5-24,9 kg/m²) namun lingkar pinggangnya relatif besar dibandingkan tinggi badannya dapat memiliki BRI yang tinggi. Pola ini -- dalam literatur penelitian kadang disebut “metabolically obese normal weight” -- dapat berkaitan dengan kelebihan lemak viseral meski BMI-nya normal. Inilah salah satu alasan peneliti mengusulkan BRI sebagai metrik pelengkap BMI saat menilai risiko kardiometabolik.

Apakah BMI berlaku sama untuk semua kelompok etnis?

Ambang BMI terutama diturunkan dari studi populasi Eropa. WHO dan lembaga kesehatan di sejumlah negara menganjurkan titik tindakan yang lebih rendah bagi orang keturunan Asia, dengan risiko berat badan berlebih yang dapat dimulai pada BMI 23 kg/m² dan risiko obesitas pada BMI 27,5 kg/m², dibandingkan ambang standar 25 dan 30. Hal ini mencerminkan perbedaan sebaran lemak tubuh dan risiko kardiometabolik pada tingkat BMI yang sama antarkelompok etnis.

Apa itu lemak viseral dan mengapa penting?

Lemak viseral adalah jaringan lemak yang tersimpan di dalam rongga perut, mengelilingi organ seperti hati dan pankreas. Lemak ini aktif secara metabolik dan melepaskan zat-zat yang diduga ikut berperan dalam resistensi insulin serta risiko kardiovaskular. Lingkar pinggang banyak dipakai di klinik sebagai penanda lemak viseral. WHO mendefinisikan obesitas perut sebagai lingkar pinggang di atas 88 cm pada perempuan dan di atas 102 cm pada laki-laki berdasarkan data populasi keturunan Eropa, dengan ambang yang lebih rendah dianjurkan untuk populasi Asia.

Sebaiknya saya memantau BMI, BRI, atau lingkar pinggang?

Lembaga kesehatan seperti WHO dan NHS menganjurkan pemantauan BMI berdampingan dengan lingkar pinggang sebagai alat penapisan yang saling melengkapi. BRI dapat dihitung dari dua ukuran yang sama dengan yang dipakai untuk rasio pinggang terhadap tinggi badan dan mungkin memberi informasi tambahan tentang bentuk tubuh, tetapi ia belum menjadi ukuran klinis baku. Memakai beberapa indikator sekaligus, alih-alih satu indeks tunggal, memberi gambaran komposisi tubuh yang lebih utuh, dan tenaga kesehatan dapat memberi saran mengenai ukuran mana yang paling relevan bagi kondisi masing-masing orang.

Referensi

  1. World Health Organization. "Obesity: Preventing and Managing the Global Epidemic." WHO Technical Report Series 894. WHO, 2000.
  2. Thomas DM, Bredlau C, Bosy-Westphal A, et al. "Relationships between body roundness with body fat and visceral adipose tissue emerging from a new geometrical model." Obesity, 2013;21(11):2264-2271.
  3. World Health Organization. "Waist Circumference and Waist-Hip Ratio: Report of a WHO Expert Consultation." WHO, 2008.
  4. WHO Expert Consultation. "Appropriate body-mass index for Asian populations and its implications for policy and intervention strategies." The Lancet, 2004;363(9403):157-163.
  5. NHS. "What is the body mass index (BMI)?" NHS, 2023. www.nhs.uk
  6. Browning LM, Hsieh SD, Ashwell M. "A systematic review of waist-to-height ratio as a screening tool for the prediction of cardiovascular disease and diabetes: 0.5 could be a suitable global boundary value." Nutrition Research Reviews, 2010;23(2):247-269.

Kalkulator terkait

🧩 Tambahkan kalkulator ke situs Anda — gratis. Widgets →